Selasa, 08 Juni 2010

The House of Raminten: Perjodohan cantik seni tradisional dengan konsep modern


Sebuah “pernikahan” yang cukup apik antara konsep tradisional dengan konsep restoran yang modern kental terasa ketika anda memasuki The House of Raminten. Restoran yang berada di kawasan Kotabaru, Yogyakarta ini terasa sangat unik sejak langkah pertama anda memasuki restoran ini. Gemerlap lampu warna-warni akan menjamu anda, diikuti dengan saung-saung tradisional, beberapa meja, serta wewangian bunga yang khas. Pelayan di tempat ini pun mengenakan pakaian khas tanah Jawa, pelayan wanitanya menggenakan kemben batik, begitu pula pelayan prianya.

Image jamu yang selalu identik dengan minuman tradisional racikan si mbok gendongan untuk orang-orang tua pun terbantahkan. Menikmati jamu pun tidak serupa dengan menyeruputnya di pasar-pasar tradisional. The House of Raminten yang telah berdiri kurang lebih satu setengah tahun ini memberikan suguhan berbeda. Di sini jamu “dijodohkan” dengan sego kucing angkringan, berbagai wedang hangat khas Yogya, es kelapa muda, es dawet, bahkan ayam goreng namun dengan tempat yang nyaman seperti kafe.

Penyajian jamu di restoran ini memang terbilang unik. Dengan briket khusus beraroma wewangian khas buah dan bunga, ada anglo kecil tempat menaruh briket itu, jamu dalam gelas pun terjaga kehangatannya. Gelas ditaruh di dalam wadah berceruk yang didesain khusus untuk menaruh gelas jamu. Di atas tempat anglo mungil itu, pemanis jamu membuyarkan kepahitan dan kegetiran jamu.


“Awalnya saya membuat restoran ini untuk memperkenalkan jamu yang sepertinya dianggap tidak menarik karena terasa pahit ke semua kalangan.Oleh karena itu saya menyajikan jamu semenarik mungkin. Saya tidak menyangka kalau akhirnya restoran ini bisa sebesar sekarang, “ ujar pemilik restoran yang dikenal sebagai Raminten.


Raminten lahir di Yogyakarta 7 januari 1945, pemilik The House of Raminten, Mirota Batik dan Mirota Kampus ini sudah sedari dulu terjun ke dunia bisnis. Ia membuka Mirota Batik sebagai langkah awal karirnya. “Sejak 30 tahun lalu saya memang sudah konsentrasi mencari uang di Mirota Batik, namun di usia saya yang sudah menginjak 60 tahun, saya pun pensiun dan membuka usaha lain.”
Darah seni dan bisnis diturunkan dari kedua orang tuanya. Ayahnya merupakan seorang keturuan TiongHoa, sementara ibunya berdarah Jawa dan sudah mengajarinya menari serta membatik sejak usia 6 tahun. Kini Raminten telah mengajar tari tradisional Jawa lebih dari 15 tahun. “Saya sangat menyukai seni, sampai sekarang saya masih aktif bermain Ketoprak yang disiarkan di Jogja TV setiap hari Minggu. Disana saya berperan sebagai Raminten, dari situlah nama dan image Raminten saya dapat. Sehari-harinya ketika bekerja saya memakai baju biasa saja, kostum seperti ini hanya dipakai ketika akan tampil di Ketoprak,” ujar pecinta hewan yang memelihara beberapa kuda di bagian belakang restorannya.
Sebagai seniman sekaligus pebisnis, ia cukup bangga dengan pekerjaannya yang tidak semata-mata hanay mencari keuntungan saja , namun juga tetap meneruskan salah satu warisan bangsa, yaitu batik. Ia juga ingin mengajarkan kepada kaum muda untuk tidak takut melangkahkan kakiknya masuk ke dalam dunia bisnis, buktinya bisnis jamu yang biasanya dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat, kini bisa dibantahkan dengan suksesnya The House of Raminten ini.
Terakhir iapun mengturakan pendapatnya tentang kesenian tradisional di Jogjakarta dan pesan bagi kaum muda, “Di Jogja ini kesenian tradisional sebenarnya masih diminati, tapi ya memang tidak begitu banyak. Menurut saya, anak muda zaman sekarang tidak mempunyai karekter yang kuat. Orang itu selain pintar harus memiliki sifat positif. Saya teringat orang tua saya yang ikut pendidikan Belanda pernah berkata, bahwa yang penting bukan saja menjadi orang kaya, tapi bagaimana caranya menjadi orang yang bermutu. Contohnya ketika anda janji akan datang, maka datanglah tepat waktu! Ketika meminjam barang, maka harus kembalikan!”

21 comments:

Anonim mengatakan...

mari bangkitkan citra rasa dan budaya indonesia!

swandi mengatakan...

makanan dengan harga murah dan tempat yang pewe bgt, like it so.

pratama mengatakan...

harganya muraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah bgt, kapan ya di bandung ada kya raminten gini? smoga aja ada ya

silaen mengatakan...

jamu? boleh juga tuh

dj arie mengatakan...

di jogja ya? jauh juga ya tp penasaran bgt loh

Anonim mengatakan...

gw pernah ksana dan bagus bgt

Angie mengatakan...

MENARIK BANGET sih kebudayaaan indonesia.

Bella mengatakan...

cuma ada di Jogja nih tempat kayak gini. ayo mari semua harus coba ke raminten yaaaa

Ode mengatakan...

Mau nih gw ke sini, di mananya kota baru nih bel?

apriliarizky mengatakan...

ini inovasi yg kreatif si owner menggabungkan unsur budaya ke dalam bisnis.
sebagai org asal jogja gue penasaran bgt mau ke raminten

Bella mengatakan...

ya Allah ode yakali lo gatau raminten dimana, di deket kridosono situ deee harus coba ya.

acid mengatakan...

konsepnya unikk, tapi jauh bener ya di jogja...

Yudha Prasetya mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Yudha Prasetya mengatakan...

sangat Jawa sekali sepertinya,makanan dan minuman tradisional disulap menjadi sangat modernl, cool!

Andyta Larasaty (Ayasa) mengatakan...

menarik sekali suguhan jamunya. pemiliknya juga sepertinya memiliki kecintaan yang amat sangat terhadap budayanya. dukung terus, yuk!

extri febri 'ceesh' mengatakan...

unik deh tempat dan menu nya.. khas.
musti kesana kalo lg ke jogja.. :)

babyfafah mengatakan...

ntar kalo gw k jogja gw harus ksini. jamu nya enak g sih?

fahrani empel mengatakan...

waktu itu sama adik aku ksini, jamu nya ya enak sih kalo suka jamu, kalo g suka ya g enak. tapi tempatnya serem" gt, kalo suka art cultural sih pasti suka deh dsini

Anonim mengatakan...

enak loh, nyaman. Nuansanya tradisional banget. Harga juga terjangkauuuu

Anonim mengatakan...

enak loh, nyaman. Nuansanya tradisional banget. Harga juga terjangkauuuu

NagarEva Putri mengatakan...

Nyesel klo ke jogja ga mampir mah... :)

Posting Komentar